Meta Model

Meta Model pada dasarnya erat hubungannya dengan NLP. John Grinder & Richard Bendler mengembangkan Meta Model untuk mengidentifikasi & memperjelas pola bahasa dengan tujuan memperbaiki keakurasian informasi antara setiap orang. Karena semua pengalaman yang kita alami didunia ini terjadi secara tidak langsung melainkan kita menciptakan mental model atau map of world yang mempengaruhi setiap perilaku kita. Mental map kita dioperasikan dengan melakukan Delating Information, Destorting dan Generalizing.

Empat miliar bit informasi masuk ke dalam diri kita pada suatu saat bersamaan, tapi kita hanya memproses sekitar dua ribuan informasi. Jika otak kita tidak memiliki kemampuan untuk memfilter informasi dengan Delating Information, Destorting & Generalizing, maka otak kita akan kelebihan beban kerja sehingga bisa terjadi kerusakan.

Sebagai seorang komunikator yang baik penting untuk mengerti map of the world dari orang lain & memahami teknik – teknik Meta Model untuk mengumpulkan informasi yang utuh. “Map” kita bisa membatasi atau membuat kita berdaya. Bandler dan Grinder memulai proses ini dengan mengamati Virgian Satir, Milton Erickson, Fritz Perls yang ahli dalam menggunakan Meta Model.

Manfaat mendasar dari aplikasi Meta Model adalah konsep bahwa : bahasa bukanlah pengalaman / kejadian, namun sebuah representasi dari kejadian / pengalaman. Seperti sebuah peta (map) yang merupakan representasi dari sebuah wilayah (territory). Sebagai seorang coach, peole-helper meta model adalah senjata sakti untuk mengubah peta atau pengalaman subjektif klien Anda dan bukan mengubah dunia itu sendiri.

Meta Model adalah seperangkat alat pengumpul informasi Linguistic yang dirancang untuk menghubungkan kembali bahasa seseorang dengan pengalamannya yang direpresentasikan melalui bahasa tersebut.

Meta Model Bermanfaat untuk :

  1. Menggunakan Bahasa untuk menggambarkan model dunia dari seseorang.
  2. Membantu untuk melakukan klarifikasi pemikiran dari pembicara untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik.
  3. Menciptakan perubahan dalam pengalaman seseorang dengan cara memperlebar model dunia seseorang, dan memiliki lebih banyak cara berpikir, mumutuskan dan memahami.

A. Generalization
Suatu proses di mana sebuah komponen / bagian dari model dunia seseorang di pisahkan dari pengalaman aslinya & merepresentasikan keseluruhan kategori di mana bagian itu sebenarnya hanyalah sebuah contoh saja. Kemampuan kita untuk mengenelarisasi juga sangat penting, dengan menggunakan pengalaman masa lalu, sebagai batu pijakan kita bisa belajar dengan sangat cepat. Anak kecil belajar membuka pintu dengan memutar handle –nya.

Selanjutnya ia mengeneralisasi pengalaman yang cuma satu kali ini dengan menganggap semua yang seperti ’itu’ pastilah ’pintu’ dan ia selalu mencoba membuka pintu dengan memutar handlenya. Bayangkan setiap kali ingin membuka pintu Anda harus berpikir dulu bagaimana harus melakukannnya.

Generalisasi membuat kita tidak perlu lagi berpikir proses membuka pintu. Begitu pernah melakukannya beberapa kali kita tidak perlu berpikir lagi untuk melakukannya di masa mendatang.

Meski demikian otak kita kadang kala melakukan Genelarisasi yang bukan representasi akaurat dari realitas. Salah satu unsur dari pengalamanlah yang justru merepresentasikan akurat dari realitas.

Contoh : saat mendapat mengalaman buruk saat menservis mobil, lalu kita langsung melakukan generalisasi bahwa semua orang bengkel curang. Generalisasi yang keliru ini, dalam bentuk yang paling ekstrem, bisa mengarahkan kita pada pikiran all – or – nothing. Rebut semuannya atau semuanya tidak boleh merebut sama sekali. Anda menjadi melihat semua situasi atau semua orang dalam skala hitam atau putih.

B. Deletion ( pembuangan / penghilangan / pengabaian )
Proses dimana kita secara selektif hanya memperhatikan aspek-aspek tertentu dari pengalaman kita dan mengabaikan yang lainnya.

Ini memungkinkan kita mengfokuskan perhatian dan mengalami satu bagian pengalaman diantara pengalaman lainnya. Oleh karena itu seseorang dapat membaca buku dengan asiknya sementara disekitarnya terdengar hiruk pikuk orang yang sedang berbincang, pesawat TV yang sedang menyala atau radio yang sedang berbunyi.

George Armitage Miller menemukan bahwa kita hanya bisa menangani rata-rata 7 ± 2 ( tujuh plus-minus dua) hal sekaligus dalam alam pikiran sadar kita.

Sebagai akibatnya dalam setiap saat tertentu kita hanya tune in pada aspek-aspek tertentu dari pengalaman kita serta menyaring lalu menghapus hal-hal lainnya.

C. Distortion
Proses menyederhanakan pengalaman tertentu pada akhirnya mengarah pada distorsi. Kadang-kadang kita tidak memiliki keseluruhan informasi lalu tiba-tiba membuat kesimpulan yang tidak dijamin ketepatannya.

Sisi baiknya,distori adalah juga proses kreatif yang membuat kita bisa mengimajinasikan atau berfantasi tentang hal-hal yang belum terjadi – atau menghasilkan penemuan-penemuan.

Ref : http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2013/05/03/meta-model-bagian-1–557033.html



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comments

comments


Tagged: ,

Leave a Reply