Regresi Dengan Multi-ISE

Sebagai hipnoterapis, jika anda membaca judul artikel di atas, apakah yang muncul dalam pikiran anda? Saya yakin anda pasti akan bertanya, ìAh, masa satu simtom bisa muncul dari beberapa ISE. Bukankah yang dipahami selama ini dalam dunia hipnoterapi satu simtom pasti hanya punya satu akar masalah atau ISE?î

Dulu di awal karir saya sebagai hipnoterapis klinis, dengan dasar teori yang saya pelajari dan pahami saat itu, saya juga punya pemahaman bahwa satu simtom muncul bisa akibat dari beberapa SSE (subsequent sensitizing event) namun selalu hanya ada satu ISE (initial sensitizing event).

ISE bisa berupa kejadian yang sepele atau (sangat) traumatik. Dari ISE ini klien biasanya mengalami beberapa kejadian yang mirip dengan dengan kejadian di ISE, dengan muatan emosi yang lebih intens, yang ini kita sebut sebagai SSE, hingga akhirnya muncul ke permukaan dan menjadi simtom. Inilah yang kami sebut dengan efek bola salju atau Snowball Effect.

Hasil diskusi dengan rekan sejawat QHI memvalidasi temuan kami bahwa sebenarnya satu simtom bisa muncul dari beberapa ISE. Dengan kata lain, ada beberapa ISE yang bermuara pada satu simtom. Sama halnya sungai besar yang airnya berasal dari beberapa sumber mata air.

Bagaimana kami akhirnya sampai pada kesimpulan ini?

Ada banyak kasus yang pernah ditangani hipnoterapis QHI yang ternyata simtomnya punya beberapa ISE. Berikut saya cuplik satu kisah yang pernah saya tangani.

Seorang klien, sebut saja Anto, datang ke saya dengan keluhan susah tidur (insomnia). Dari hasil wawancara saya menemukan bahwa Anto sulit tidur karena kecemasan yang tinggi. Namun saya merasa, secara intuitif, bahwa ada masalah lain yang belum Anto sampaikan pada saya. Untuk itu saya akan mencari tahu saat sesi hypnoanalysis.

Setelah melalui serangkaian persiapan pada Anto, saya selanjutnya mulai mencari tahu apa sebenarnya akar masalah Anto. Benar, Anto tidak bisa tidur karena kecemasan yang tinggi. Dengan teknik regresi saya berhasil menemukan lima SSE dan akhirnya sampai ke ISE yang menjadi sumber perasaan cemasnya. Jadi, bila diurut, maka proses terciptanya simtom yang dialami Anto adalah sebagai berikut: ISE, SSE1, SSE2, SSE3, SSE4, SSE5, dan akhirnya menjadi simtom insomnia.

Regresi dari masa sekarang, dengan menggunakan simtom, menuju ke SSE juga merupakan pengalaman menarik. Tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, ternyata emosi yang mendasari kejadian di SSE ini berbeda dengan emosi kecemasan yang dialami Anto di masa sekarang, yang membuat ia sulit tidur.

Di SSE5, ini adalah SSE pertama yang ditemukan saat regresi namun adalah SSE kelima bila dihitung dari ISE, ditemukan bahwa emosi yang mendasari kejadian yang dialami Anto ternyata bukan perasaan cemas namun marah. Temuan ini tentunya cukup mengejutkan karena selama ini pemahaman dalam dunia hipnoterapi adalah bahwa affect bridge bekerja dengan menggunakan jembatan emosi, dan ini adalah emosi yang sama yang menjadi jalur untuk mencapai akar masalah.

Selanjutnya di SSE4 emosinya adalah takut, SSE3 emosinya takut, SSE2 perasaan kesepian, SSE1 emosinya benci, dan di ISE, yang terjadi saat Anto berusia empat bulan dalam kandungan, emosinya adalah perasaan ditolak karena ibunya sempat melakukan upaya aborsi namun gagal.

Setelah ISE ditemukan saya melakukan resolusi trauma dan tuntas. Penanganan dan resolusi trauma juga dilakukan pada SSE. Setelah itu barulah dilakukan final check untuk memastikan kecemasan yang menjadi penyebab insomnia telah teratasi dengan tuntas. Hasilnya? Ternyata Anto masih tetap merasa cemas walaupun intensitasnya sudah jauh berkurang.

Hal ini tentunya membuat saya penasaran. Protokol terapi telah dilakukan dengan runtut dan tepat namun mengapa klien masih merasa cemas? Bukankah menurut teori jika ISE sudah dibereskan, apalagi SSE juga ikut diproses, maka seharusnya emosi yang mendasari simtom juga ikut tuntas dan bersih.

Penasaran dengan kondisi ini saya kembali melakukan proses terapi untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Saya kembali melakukan regresi. Ada pertimbangan khusus sehingga saya tidak menggunakan Ego Personality Therapy. Affect bridge kali ini membawa saya pada tiga SSE yang berbeda sebelum akhirnya menemukan ISE. Dan yang luar biasa lagi ISEnya berbeda dengan ISE yang saya temukan pertama. Tiga SSE dalam regresi kali ini juga berbeda dengan temuan pada regresi pertama.

Setelah saya proses semuanya saya kembali melakukan checking untuk memastikan perasaan cemas Anto telah hilang. Namun yang terjadi adalah saat saya cek ternyata Anto tetap masih merasakan cemas walaupun intensitasnya sudah sangat berkurang.

Sekali lagi, dengan rasa penasaran yang tinggi saya kembali memproses emosi ini. Kali ini saya menemukan dua SSE sebelum akhirnya menemukan ISE. Dan kejadian yang sama terulang. Rangkaian kejadian pada SSE dan ISE yang saya temukan ternyata berbeda dengan dua proses yang telah saya lakukan sebelumnya.

Setelah semuanya diproses, sesuai dengan protokol terapi, saya kembali memeriksa untuk memastikan perasaan cemas Anto telah bersih. Dan kali ini perasaan cemasnya telah benar-benar hilang.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai terjadi satu simtom punya beberapa akar masalah (ISE) yang berbeda?

Untuk memahami kondisi ini kami mengacu pada Teori Tungku Mental yang kami kembangkan di QHI. Teori Tungku Mental mengatakan bahwa pikiran manusia ibarat tungku mental yang terbuat dari tanah liat, berisi air, dan dengan api emosi yang membakar dasar tungku.

Dalam kondisi normal saat air mendidih maka uap air dan tekanan yang dihasilkannya bebas lepas sehingga tidak menimbulkan masalah pada tungku. Dengan kata lain, walaupun kadang mengalami kondisi tertekan, stress, kita dapat melepas tekanan ini dan bisa tetap beroperasi secara normal.

Namun pada individu yang bermasalah yang terjadi adalah tungku mental ditutup rapat sehingga uap air dan tekanan yang dihasilkannya terperangkap di dalam tungku. Lambat laun tekanan dalam tungku semakin tinggi dan suatu saat akan membuat tungku meledak dan hancur.

Untungnya, pada diri manusia, sebelum tungku pikiran ini meledak, pikiran bawah sadar secara otomatis, sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi pikiran sadar dan tubuh fisik dari hal-hal yang ia pandang merugikan atau membahayakan, akan melakukan upaya penyelamatan keutuhan tungku.

Caranya adalah pikiran bawah sadar membuat retakan kecil sehingga uap air dan tekanan yang ada dalam tungku dapat keluar. Dengan demikian tungku tidak meledak. Uap air yang keluar dari retakan inilah yang kita namakan simtom, bisa berupa imsomnia, depresi, OCD, halusinasi, dan berbagai simtom lainnya, bahkan bisa berupa penyakit psikosomatis.

Dalam kasus Anton ternyata pikiran bawah sadar memutuskanî untuk menggunakan hanya satu retakan sebagai outlet (baca: simtom) untuk menyalurkan keluar uap air dan tekanan berlebih dalam sistem psikis Anton. Dari apa yang telah dibahas di atas kita ketahui bahwa ternyata ada beberapa api emosi yang membakar tungku mental.

Empat bulan kemudian Anto kembali menghubungi saya dan mengeluh bahwa ia kembali sulit tidur dan minta waktu untuk terapi lagi. Saya penasaran dengan hal ini dan segera mengatur jadwal terapi lanjutan. Dari pengalaman saya menangani kasus insomnia biasanya kalau sudah beres emosinya maka klien sembuh total.

Dalam proses terapi kali ini Anto juga mengalami perasaan cemas, sama seperti di sesi sebelumnya. Namun ada satu temuan menarik. Yang menjadi sumber masalahnya bukan berasal dari ISE yang tidak berhasil saya temukan atau tidak saya proses tuntas pada sesi terapi sebelumnya. Sumber masalahnya kali ini adalah kejadian yang baru Anto alami dua minggu sebelum ia menghubungi saya yaitu berhubungan dengan urusan pajak. Jadi ini adalah emosi yang sama namun dengan sebab yang berbeda.

Dari teori tungku mental kita tahu bahwa ternyata pikiran bawah sadar Anton menggunakan simtom yang sama sebagai sarana komunikasinya dengan pikiran sadar. Tanpa reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom ini akan terus digunakan bila Anton mengalami perasaan cemas berlebih. Dengan teknik tertentu terapis dapat mengarahkan pikiran bawah sadar klien untuk lebih cerdas dalam memilih simtom  yang lebih ringan dan konstruktif dan tidak merugikan hidup klien.

Dari pengalaman kejadian ini saya  menyimpulkan beberapa hal penting yang sangat perlu diperhatikan saat melakukan terapi:

  1. simtom yang dialami klien ternyata bisa berasal dari beberapa ISE.
  2. emosi yang mendasari suatu rangkaian kejadian (SSE) ternyata tidak selalu sama atau tidak harus sama namun akhirnya tetap akan mengarah pada ISE.
  3. pada simtom dengan multi-ISE, setiap kali satu ISE dan rangkaian SSE-nya berhasil dibereskan maka intensitas emosi yang melekat pada simtom menjadi semakin lemah.
  4. melemahnya intensitas emosi pada simtom dengan multi-ISE berbanding lurus dengan jumlah ISE yang berhasil dibereskan.
  5. jika masih ada ISE yang belum berhasil ditemukan atau diproses tuntas maka intensitas emosi pada simtom yang tadinya sudah turun dapat naik kembali.
  6. klien bisa kambuh bukan karena terapi yang telah dijalani tidak efektif atau gagal namun karena pikiran bawah sadar memutuskan menggunakan simtom yang sama sebagai bentuk komunikasinya dengan pikiran sadar saat seseorang kembali mengalami kondisi tekanan mental tertentu.
  7. terapis bisa mengarahkan pikiran bawah sadar untuk memilih simtom lain yang lebih ringan dan konstruktif untuk hidup klien.
  8. terapis perlu teliti dan hati-hati dalam menyikapi berbagai fenomena yang dimunculkan pikiran bawah sadar dalam proses terapi.

Penulis : Adi W Gunawan [source : http://portalnlp.com/penanganan-simtom-dengan-multi-ise/]



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comments

comments


Leave a Reply